Dari
hasil pengamatan di lapangan (terutama terhadap pembelajaran matematika),
proses penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada
penguasaan konsep yang dijaring dengan tes tertulis obyektif dan subyektif
sebagai alat ukurnya. Hal ini didukung oleh penelitian Nuryani, dkk (dalam Mulyana,
2005) yang mengemukakan bahwa pengujian yang dilakukan selama ini baru mengukur
pengusaan materi saja dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah.
Keadaan semacam ini merupakan salah satu penyebab guru enggan melakukan
kegiatan pembelajaran yang memfokuskan pada pengembangan keterampilan proses
anak. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan umumnya hanya terpusat pada
penyampaian materi dalam buku teks. Keadaan faktual ini mendorong siswa untuk
menghapal pada setiap kali akan diadakan tes harian atau tes hasil belajar.
Padahal untuk anak jenjang sekolah dasar yang harus diutamakan adalah bagaimana
mengembangkan rasa ingin tahu dan daya kritis anak terhadap suatu masalah.
Berdasarkan pemikiran-pemikiran ini, tampaklah pada kita akan pentingnya penyelenggaraan
kegiatan evaluasi. Evaluasi merupakan kegiatan yang tidak terelakkan dalam
setiap kegiatan atau proses pembelajaran. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki kemampuan menyelenggarakan
evaluasi. Guru akan dianggap memiliki kualifikasi kemampuan mengevaluasi,
apabila guru mampu menjawab mengapa, apa, dan bagaimana evaluasi dalam kegiatan
pembelajaran atau pendidikan.
B. Perkembangan Asesmen Konvensional
Perkembangan konsep-konsep asesmen (penilaian)
yang berhubungan erat dengan konsep pendidikan.
• Keadaan sebelum 1930
Konsep pengukuran: Penilaian dan pengukuran adalah 2 hal yang tidak
terpisahkan; kegiatan penilaian diarahkan pada upaya memeriksa
perbedaan-perbedaan individual siswa; hubungan antara penilaian dan
kurikulum/sistem pendidikan tidak ada; orientasinya pada pengembangan alat uji
yang objektif dan baku
• Keadaan antara 1930-1960
Konsep Tyler (oleh Ralph W. Tyler): Kegiatan penilaian mulai dihubungkan dengan
upaya perbaikan kurikulum/sistem pendidikan; penilaian berfungsi untuk mengetahui
seberapa jauh tujuan pendidikan telah atau belum dicapai
• Keadaan setelah 1960
Konsep baru (oleh Michael Seriven, Robert E. Stake, Daniel L. Stufflebeam):
1.
Penilaian
tidak hanya diarahkan pada pemeriksaan terhadap tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan, melainkan mencakup pula tujuan-tujuan yang tersembunyi;
2.
Penilaian
tidak dilakukan hanya melalui pengukuran perilaku siswa melainkan juga melalui
penkajian langsung terhadap aspek masukan dan proses pendidikan;
3.
Penilaian
tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan-tujuan telah
tercapai melainkan juga untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan tersebut penting
untuk dicapai;
4.
Tujuan
dan objek penilaian cukup luas, cara dan alat penilaian pun cukup beragam
C. Pengertian Asesmen (Penilaian)
Penilaian dilakukan untuk menafsirkan
hasil pengukuran dan menentukan pencapaian hasil belajar berdasarkan kriteria
tertentu. Umumnya digunakan kategorisasi sepert baik–buruk, benar–salah, sangat
setuju–sangat tidak setuju, dan sebagainya.
Davies (dalam Dimyati, 2006:190) mengemukakan bahwa evaluasi merupakan proses
sederhana dalam memberikan/menetapkan nilai kepada sejumlah tujuan, kegiatan,
keputusan, unujuk kerja, proses, orang, objek, dan masih banyak yang lain.
Sedangkan Wand dan Brown mengemukakan bahwa evaluasi adalah suatu proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu. (dalam Dimyati, 2006:191). Evaluasi merupakan
kegiatan penentuan nilai/pencapaian tujuan suatu program untuk pengambilan
keputusan. Evaluasi berkaitan dengan proses pengumpulan data untuk menentukan
sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana dari tujuan pendidikan sudah
tercapai. Jadi evaluasi merupakan tindakan untuk menetapkan keberhasilan suatu
program pendidikan, termasuk menetapkan keberhasilan peserta didik dalam
program pendidikan yang diikuti. Fokus evaluasi adalah keberhasilan program
atau kelompok peserta didik sesuai dengan program yang diikuti.
Sedangkan asesmen atau penilaian dalam pembelajaran merupakan suatu proses atau
upaya formal pengumpulan informasi yang berkaitan dengan variabel-variabel
penting pembelajaran sebagai bahan dalam pengambilan keputusan oleh guru untuk
memperbaiki proses dan hasil belajar siswa. Variabel-variabel penting yang
dimaksud sekurang-kurangya meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan dan
sikap siswa dalam pembelajaran yang diperoleh guru dengan berbagai metode dan
prosedur baik formal maupun informal. Jadi, asesmen adalah prosedur yang
digunakan untuk mendapatkan informasi tentang prestasi atau kinerja seseorang
yang hasilnya akan digunakan untuk evaluasi. Fokus asesmen adalah pencapaian hasil atau
prestasi belajar peserta didik. Informasi pencapaian hasil atau prestasi
belajar peserta didik diperoleh dengan menggunakan berbagai bentuk dan alat
pengukuran dan non pengukuran atau tes dan non tes, formal ataupun non formal.
Informasi ini digunakan untuk menggambarkan bentuk profil peserta didik guna
menetapkan apakah peserta didik dapat dinyatakan sudah menguasai kompetensi
yang ditargetkan atau belum.
Pengertian asesmen atau
penilaian di atas selaras dengan makna penilaian yang digariskan dalam Buku
Pedoman Penilaian pada kurikulum pendidikan dasar. Dalam buku tersebut tertulis
bahwa, penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk
memberikan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang
proses dan hasil belajar yang telah dicapai (Depdikbud, 1994:3).
D. Tujuan dan Peran Asesmen dalam
Pembelajaran
Tujuan utama penggunaan asesmen dalam pembelajaran (classroom assessment)
adalah membantu guru dan siswa dalam mengambil keputusan profesional untuk
memperbaiki pembelajaran. Menurut Popham (dalam Mulyana, 2005) sebagai seorang
guru sangatlah penting untuk memahami asesmen. Ada beberapa alasan mengapa guru
harus memahami asesmen, yaitu sebagai berikut.
(1) Mendiagnosa kelebihan dan kelemahan siswa dalam belajar,
(2) Memonitor kemajuan siswa,
(3) Menentukan jenjang kemampuan siswa,
(4) Menentukan efektivitas pembelajaran,
(5) Mempengaruhi persepsi publik tentang efektivitas pembelajaran,
(6) Mengevaluasi kinerja guru kelas,
(7) Mengklarifikasi tujuan pembelajaran yang dirancang guru
Setiap penggunaan asesmen atau penilaian dicirikan oleh hal-hal berikut:
1.
Menuntut
siswa untuk merancang, membuat, menghasilkan, mengunjukkan atau melakukan
sesuatu
2.
Memberi
peluang untuk terjadinya berpikir kompleks dan/atau memecahkan masalah;
3.
Menggunakan
kegiatan-kegiatan yang bermakna secara instruksional;
4.
Menuntut penerapan yang autentik pada dunia nyata;
5.
Penskoran
lebih didasarkan pada pertimbangan manusia yang terlatih daripada mengandalkan
mesin. Untuk memperoleh asesmen dengan standar tinggi, maka penggunaan asesmen
harus: relevan dengan standar atau kebutuhan hasil belajar siswa; adil bagi
semua siswa; akurat dalam pengukuran; berguna; layak dan dapat dipercaya. (Herman
dalam Mulyana, 2005)
Agar penggunaan
asesmen dalam kelas sesuai dengan pembelajaran dan dapat meningkatkan
pembelajaran tersebut Cottel (dalam Mulyana, 2005) menggagaskan 5 petunjuk bagi
guru penggunaan asesmen dalam kelas. Kelima petunjuk tersebut adalah: pertama,
senantiasa menganggap bahwa pembelajaran terus berlangsung; kedua, selalu
meminta siswa untuk menunjukkan bukti-bukti bagaimana mereka belajar; ketiga,
memberi siswa umpan balik tentang respon kelas serta rencana pengajar tentang
respon tersebut; keempat, melakukan penyesuaian-penyesuaian yang tepat untuk
meningkatkan pembelajaran; dan kelima, menilai ulang bagaimana
penyesuaian-penyesuaian tersebut bekerja cukup baik.
Asesmen memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Asesmen
dapat memberikan bantuan yang sangat berarti bagi tercapainya tujuan
pembelajaran. Berikut ini adalah
fungsi asesmen terhadap pembelajaran:
1. Meningkatkan motivasi belajar siswa
2. Meningkatkan daya transfer hasil belajar
3. Membantu siswa untu melakukan asesmen diri sendiri (self asessment)
4. Membantu mengevaluasi efektivitas proses pembelajaran
Dalam melakukan suatu penilaian memiliki suatu tujuan yakni untuk melihat
penguasaan suatu materi atau bahan, keberhasilan belajar, keterampilan
tertentu, kemajuan belajar, dan semacamnya, dan bahkan untuk menilai sikap
seseorang terhadap sesuatu, misalnya sikap siswa dalam belajar matematika
(Ruseffendi, 1991 ). Tujuan penilaian tidak bisa lepas dari tujuan pendidikan
nasional, dikarenakan tujuan penilaian berkaitan dengan tujuan instruksional
khusus. Tujuan instruksional khusus adalah jabaran dari tujuan instruksional
umum. Sedangkan tujuan instruksional umum terkait dengan tujuan kurikuler, dan
seterusnya sampai dengan keterkaitannya dengan tujuan nasional.
E. Jenis Penilaian
I. Berdasarkan tujuan penilaian, ada 3 macam penilaian
yaitu formatif, sumatif, dan diagnostik
Penilaian diagnostik digunakan untuk menentukan karakteristik pembelajaran dari
siswa secara individu, seperti kepemilikan kemampuan prasyarat, penguasaan
objek atau konsep, dan sebab utama kesulitan belajar siswa. Penilaian formatif
digunakan saat siswa sedang belajar atau mempelajari materi baru untuk
menemukan pola kesalahan siswa, memberi informasi kemajuan belajar,
merencanakan program remidiasi, dsb yang kesemuanya ini difokuskan untuk
efektivitas pembelajaran yang sedang berlangsung. Penilaian Sumatif digunakan
setelah siswa menyelesaikan pembelajaran topik/unit tertentu dan dimanfaatkan
untuk menerangkan hasil belajar mahasiswa, memutuskan tingkat efektivitas
pembelajaran, menilai metode/pendekatan pembelajaran dan kurikulum yang
dibelajarkan.
II. Berdasarkan alat penilaian, ada 2 macam penilaian,
yaitu tes dan non-tes
1. Tes
Tes adalah sekumpulan soal atau pertanyaan yang dipakai untuk mengukur
pengetahuan, keterampilan, kemampuan, atau intelegensi perorangan atau kelompok
(Rusefendi, 1991). Sementara Sudjana (2004) menyatakan bahwa tes adalah alat
ukur yang diberikan kepada individu untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang
diharapkan baik secara tertulis atau secara lisan atau secara perbuatan. Tes
menghasilkan suatu bilangan yang dapat dipakai untuk mengelompokkan, menilai,
atau yang semacamnya bagi orang yang menempuh tes tersebut. Karena itu, hasil
tes dipakai sebagai generalisasi pengetahuan, dan sebagainya dari seseorang
atau kelompok, maka semestinya tes itu adalah sampel yang representatif dan
baik.
a. Jenis Tes
1) Tes dengan bentuk dan jawaban berbeda
Tes dengan bentuk jawaban berbeda adalah tes tertulis, lisan, perbuatan, dan
penampilan. Tes matematika umumnya tes tulis. Keunggulan dan kelemahan tes ini
dapat diperhatikan pada tabel berikut ini:
Keunggulan tes tulis Kelemahan tes tulis
• Penyelenggaraannya dapat dilaksanakan bersama-sama sekaligus
• Pertanyaan-pertanyaannya sudah terarah dengan baik
• Materinya sedapat mungkin telah terliput
• Tingkat kesukarannya sudah sesuai dengan yang diharapkan (proporsional antara
soal-soal yang mudah, sedang dan sukar)
• Jawaban siswa sudah dijamin akan konsisten • Memerlukan waktu dalam
pemeriksaan sekalipun dengan soal tipe objektif
• Adanya peluang bagi yang diuji untuk mencontoh (bekerjasama)
Tes lisan diadakan untuk menghilangkan keraguan
penilaian. Maksudnya ialah dalam tes tulisan mungkin saja jawaban siswa itu
tidak lengkap, kurang terarah, sebagian hasil jiplakan, sebagian dari
pengetahuan dan kemampuannya tidak terungkapkan karena tidak ditanya, dan
sebagainya. Sehingga nilai tes tulis setelah diadakan tes lisan dapat
diluruskan. Keunggulan dan kelemahan tes ini dapat diperhatikan pada tabel
berikut ini:
Keunggulan tes lisan Kelemahan tes lisan
• Nilai tes tulis setelah diadakan tes lisan dapat diluruskan
• pada bidang studi lain misalnya bahasa inggris, tidak hanya untuk pelurusan
nilai tulisan, tetapi untuk menilai kemampuan tertentu yang melalui tes tulis
belum terungkapkan; kemahiran membaca dan mengemukakan pendapat • Jika penguji
tidak menyiapkan diri secara matang.
• Penguji tidak bisa lepas dari subjektifitas dan kondisi penilai
• Adanya godaan bagi penilai untuk membantu
Bila melalui penilaian tulisan dan lisan itu masih
ada yang belum terungkapkan, tes perbuatan dan atau tes penampilan sering
diadakan. Pada matematika tes perbuatan itu misalnya; dalam penggunaan jangka,
busur, dan alat ukur lainnya untuk melakukan lukisan dan meggambar. Tes
penampilan ialah tes tentang kebolehan seseorang untuk menunjukkan tampang dan
kemampuan dalam berpidato, berceramah, mengajar dan semacamnya. Dalam pelajaran
matematika tes penampilan dapat dikatakan tidak ada, yang ada hanya bagi
gurunya.
2) Tes dengan pembuatnya berbeda
Tes dengan pembuatnya berbeda dapat berupa soal tes buatan guru, tes baku, dan
soal-soal dalam buku pelajaran. Tes baku ialah tes yang telah dibuat oleh para
ahli yang keabsahannya tidak disangsikan lagi. Sedangkan tes buatan guru
biasanya sama dengan soal-soal dalam buku pelajaran. Sehingga baik tidaknya
soal tes buatan guru itu baru menurut perkiraan dan validitas isinya baru pada
validitas luar.
3) Tes dengan sasaran berbeda
Tes dengan sasaran berbeda dapat berupa tes: formatif, sumatif, diagnostik,
kecepatan, kekuatan, kemampuan, penempatan, seleksi, perolehan, inteligensi,
pre-tes, pos-tes, EBTANAS, dan tes untuk melihat prosesnya.
Tes kecepatan digunakan untuk melihat kecepatan seseorang dalam menyelesaikan
sesuatu. Tes kekuatan digunakan untuk menyelesaikan soal-soal yang sukar dalam
tes dengan diberikan waktu yang sangat leluasa (misanya soal dapat dikerjakan
dirumah atau boleh dengan membuka buku ketika ujian). Tes kemampuan digunakan
untuk melihat kemampuan seseorang dalam studi untuk jenjang tertentu, misalnya
tes untuk mengambil gelar doktor. Tes seleksi digunakan untuk menjaring
sejumlah calon dengan tempat yang tersedia terbatas. Pre-tes dan pos-tes
digunakan untuk melihat kemajuan siswa belajar dan sekaligus untuk melihat
keberhasilan guru mengajar suatu satuan pelajaran. Pre tes diberikan sebelum
siswa memperoleh pelajaran, sedangkan pos tes sesudahnya. Tes perolehan
digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar siswa untuk waktu yang lebih
lama, misalnya pada saat kenaikan kelas atau pada saat EBTANAS. Tes penempatan
digunakan untuk menempatkan siswa pada tingkat kelas, sesuai dengan
kemampuannya. Tes intelegensi berkenaan dengan ramalan keberhasilan belajar
seseorang dikemudian hari. Tes intelegensi ini mengetes pengetahuan, kemampuan,
keterampilan dan sebagainya yang dimiliki seseorang.
b. Tipe dan Bentuk Tes
Terdapat dua tipe tes yaitu : tes uraian (essay) dan tes objektif.
1) Tes Uraian (essay)
Soal-soal tes uraian pada umumnya ada pada buku pelajaran dan soal tes uraian
berupa soal yang masing-masing mengandung permasalahan dan menuntut penguraian
sebagai jawaban. Dalam soal uraian siswa diminta untuk merumuskan,
mengorganisasikan dan menyajikan jawabannya dalam bentuk uraian. Soal-soal
bentuk uraian, jika direncanakan dengan baik, sangat tepat untuk menilai proses
berpikir seseorang serta kemampuannya mengekspresikan buah pikiran. Keunggulan
dan kelemahan tes ini dapat diperhatikan pada tabel berikut ini:
Keunggulan Tes Uraian Kelemahan Tes Uraian
• Relatif lebih mudah penyusunannya
• Menimbulkan sifat kreatif pada diri siswa
• Proses siswa ketika menjawab soal-soal itu akan tampak
• Tidak memberi kesempatan siswa untuk berspekulasi
• Memberi motivasi siswa untuk mengemukakan pendapat dengan bahasanya sendiri
• Dapat mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu materi •
Memeriksa hasil tes relatif sulit dan memerlukan waktu yang lebih lama
• Dalam penilaian mudah dipengaruhi unsur subjektivitas dari penilai
• Kurang representatif dalam mewakili materi pelajaran, karena hanya terdiri
dari beberapa butir soal
• Pemeriksanya hanya dapat dilakukan oleh ahlinya
2) Tes Objektif
Tes objektif adalah tes yang telah disediakan pilihan jawabannya. Tes objektif
merupakan tipe yang sangat populer di dalam penilaian hasil belajar. Hal ini
disebabkan antara lain oleh luasnya bahan pelajaran yang dapat dicakup dalam
tes dan mudahnya pengoreksian terhadap jawaban yang diberikan. Macam-macam tes
objektif tergantung kepada bentuknya; bentuk B-S (benar-salah), bentuk pilihan
banyak, bentuk isian dan bentuk memasangkan (menjodohkan).
Tes tipe objektif ada bermacam-macam, yaitu antara
lain sebagai berikut:
a. Bentuk Benar-Salah
Tes benar salah adalah suatu bentuk tes yang soal-soalnya berupa pernyataan
(Sudjana, 2004:264). Sebagian dari pernyataan itu merupakan pernyataan yang
benar dan sebagian lain merupakan pernyataan yang salah. Tes ini merupakan tes
yang butir pertanyaannya (pernyataannya) dijawab dengan memilih salah satu
pilihan jawaban yaitu B (Benar) atau S (Salah). Keunggulan dan kelemahan tes
ini dapat diperhatikan pada tabel berikut ini:
Keunggulan tes bentuk benar-salah Kelemahan tes
bentuk benar-salah
• Dapat dipakai untuk berbagai bidang studi dan keadaan
• Waktu tes relatif singkat
• Materi yang diwakili oleh soal-soal yang ditanyakan bisa banyak sekali. •
Kebenaran pernyataan itu diragukan (ambiguity)
• Penggunaannya terbatas
• Faktor terka menerka.
Beberapa saran dalam menyusun tes bentuk
benar-salah diantaranya adalah: pernyataan harus jelas benar atau salah,
hindari penentu spesifik misalnya semua dan tidak pernah, hindari pernyataan
negatif, dan gunakan kalimat sederhana. Secara teknis disarankan untuk membuat
jumlah butir yang cukup banyak, soal benar dan salah seimbang, dan urutan soal
tidak berpola.
b. Bentuk Pilihan Banyak
Dalam tes bentuk pilihan banyak, siswa diminta untuk memilih jawaban yang benar
dari jawaban yang disediakan. Soal bentuk pilihan banyak sering digunakan,
terutama untuk matematika.
Dilihat dari strukturnya bentuk soal pilihan banyak terdiri atas:
i. Stem :suatu pertanyaan / pernyataan yang berisi permasalahan yang akan
ditanyakan
ii. Option :sejumlah pilian/alternatif jawaban
iii. Kunci :jawaban yang benar/paling tepat
iv. Distractor/pengecoh :jawaban-jawaban lain, selain kunci
(Sudjana, 2004:267)
Keunggulan dan kelemahan tes ini dapat
diperhatikan pada tabel berikut ini:
Keunggulan tes bentuk pilihan banyak Kelemahan tes
bentuk pilihan banyak
• Faktor terka-menerka relatif lebih kecil
• Dapat dipakai untuk mengukur berbagai tujuan kurikuler
• Tidak mengandung jawaban yang dapat dimaknakan bermacam-macam. • Siswa dapat
memperoleh jawaban yang benar tanpa melakukan sesuai dengan yang diminta
• Bagaimanapun fleksibelnya bentuk ini masih sukar untuk dapat mengungkapkan
kemampuan membuktikan, melukis, kreativitas kemampuan membaca, penemuan,
pemecahan masalah, dll.
Beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam
menyusunnya adalah: gunakan kalimat positif, hindari kata kunci, hindari
hubungan antar butir, dan jawaban diacak.
c. Bentuk Isian (Jawaban Singkat)
Dalam tes objektif bentuk isian, siswa diminta untuk melengkapkan kalimat
sehingga menjadi benar. Yang diisikan harus sesingkat mungkin. Tes bentuk
jawaban singkat atau isian ini merupakan jenis tes uraian dimana jawaban hanya
pendek saja yang ditempatkan diakhir kalimat pernyataan atau ditengah kalimat.
Bentuk tes jawaban singkat ini menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan,
kalimat atau simbol dan jawabannya hanya dapat dinilai benar atau salah.
Keunggulan dan kelemahan tes ini dapat diperhatikan pada tabel berikut ini:
Keunggulan tes bentuk isian Kelemahan tes bentuk
isian
• Faktor terka-menerka kecil
• Penilaian dapat objektif
• Dapat mencakup banyak materi
• Jawaban soal yang ditanyakan dapat tidak ambiguity. • membuat soal yang
jawabannya hany sebuah itu sukar
• untuk mengukur proses berpikir yang mendalam dan penalaran sukar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
penyusunan tes bentuk isian adalah: jawaban harus dibatasi, hanya ada 1 jawaban
benar, titik-titik diletakkan diujung kalimat atau ditengah kalimat, nyatakanlah
satuannya jika dibutuhkan.
d. Bentuk Memasangkan (Menjodohkan)
Tes Memasangkan merupakan variasi dari tes pilihan ganda. Pada soal bentuk
memasangkan, terdapat satu set soal dan jawabannya, siswa diminta untuk
memasangkannya. Dalam bentuk yang paling sederhana jumlah soal sama dengan
jumlah jawabannya, tetapi sebaiknya jumlah jawaban yang disediakan dibuat lebih
banyak daripada soalnya, agar mengurangi kemungkinan siswa menjawab betul
dengan hanya menebak. Keunggulan dan kelemahan tes ini dapat diperhatikan pada
tabel berikut ini:
Keunggulan tes memasangkan Kelemahan tes
memasangkan
• Waktunya relatif singkat
• Banyak pertanyaan dapat diajukan sehingga dapat mengukur ruang lingkup
bahasan yang lebih luas
• Faktor terka-menerka kecil
• Penilaiannya mudah dan objektif. • Sukar untuk menentukan materi/pokok
bahasan yang mengukur hal-hal yang berhubungan
• Hanya dapat mengukur hal-hal yang didasarkan pada fakta dan hafalan saja.
Beberapa ketentuan menyusunnya diantaranya adalah
: materi sebaiknya homogen, jumlah jawaban lebih banyak dibanding soal,
petunjuk jelas, menggunakan simbol yang berlaianan untuk pertanyaan dan
jawaban, dan ditulis dalam halaman yang sama.
Berdasarkan uraian di atas, keunggulan dan
kelemahan tes tipe objektif secara menyeluruh adalah sebagai berikut:
Keunggulan Tes Objektif Kelemahan Tes Objektif
• Lebih representatif mewakili isi dan banyaknya materi/bahan
• Lebih objektif dalam penilaian
• Lebih mudah dan cepat memeriksanya
• Waktu yang diperlukan untuk memeriksa jawaban siswa relatif singkat
• Pemeriksaan hasil tes dapat dibantu oleh orang lain
• Soal-soal lebih mungkin dapat dipakai ulang • Dibutuhkan persiapan penyusunan
tes yang relatif lebih sulit dibandingkan tes uraian
• Proses berpikir anak tidak bisa diukur
• Sifat kreatif siswa akan cenderung menumpul
• Beberapa aspek kemampuan tidak bisa atau sukar diungkapkan
• Banyak kesempatan untuk untung-untungan
• Kerjasama siswa dalam menjawab tes lebih terbuka
2. Non Tes
Non tes adalah sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang digunakan untuk
pengumpulan data, data yang dikumpulkan bisa berupa fakta, pendapat, kesan,
harapan, sikap, sikap wajar, dan sebagainya, karena tidak semua hasil belajar
dapat diukur dengan tes. Data-data itu dapat diperoleh melalui angket,
wawancara, dan atau observasi.
a. Angket (Kuesioner)
Angket adalah sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang menyeluruh mengenai
sesuatu yang diharapkan terungkapkan (Ruseffendi, 1991). Kalimat dan
istilah-istilah yang dipergunakan untuk menyusun pertanyaan atau pernyataan
dipilih sebaik mungkin, sopan, sederhana, singkat, jelas dan sebagainya. Angket
harus diisi oleh responden untuk mengukur sikap dan pendapatnya tentang
sesuatu. Ditinjau dari aspek orang yang menjawab angket (Kuesioner), terdapat
dua jenis kuesioner yaitu kuesioner langsung (diisi langsung oleh responden),
dan tidak langsung (diisi oleh orang lain yang bukan responden). Ditinjau dari
aspek cara menjawab, terdapat dua bentuk kuesioner yaitu Kuesioner tertutup
(kuesioner dengan pilihan jawaban lengkap) dan kuesioner terbuka (responden
bebas mengemukakan pendapat).
b. Wawancara
Wawancara adalah suatu metode untuk mendapatkan jawaban dari responden melalui
tanya jawab sepihak dan untuk mengetahui lebih lanjut sikap siswa yang
sebenarnya, untuk melihat ada tidaknya yang disembunyikan dari jawaban siswa
(Ruseffendi, 1991).. Wawancara dilakukan dengan dua cara: wawancara bebas
(responden bebas mengemukakan jawabannya) dan wawancara terstruktur (responden
menjawab dengan memilih pilihan jawaban yang tersedia). Butir soal wawancara
pada umumnya disusun dalam bentuk pedoman wawancara yang tersusun secara
sistematis dan berurutan sehingga pewawancara dapat mengambil kesimpulan yang
benar berdasarkan hasil wawancara tersebut. Pedoman wawancara merupakan panduan
yang tidak mengikat dimana pewawancara dapat juga mengatur sendiri urutan
pertanyaan yang diajukannya atau tidak menggunakan atau menanyakan satu butir
yang ternyata sudah dijawab secara tidak langsung oleh responden.
c. Observasi
Observasi merupakan suatu teknik penggalian informasi dengan mengamati
responden secara teliti dan melakukan pencatatan secara sistematis. Ketika
mewawancarai siswa, bisa saja ada sikap siswa yang belum terungkapkan atau
jawaban dari sebagian siswa yang mencurigakan, maka observasi dapat dilakukan
untuk melihat sikap siswa yang wajar. Observasi sebagai alat pengumpul data
banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya
suatu kegiatan yang dapat diamati, misalnya tingkah laku guru ketika mengajar,
kegiatan diskusi siswa, penggunaan alat peraga dan lain-lain.
Terdapat 3 macam observasi yaitu: observasi partisipan (pengamat melakukan
observasi dengan mengikuti kegiatan responden), observasi sistematik
(faktor-faktor yang diamati telah terdaftar sebelumnya dan pengamat berada
diluar kegiatan responden), dan observasi eksperimen (pengamat tidak
berpartisipasi dalam kegiatan responden tetapi mengendalikan situasi agar
sesuai dengan tujuan penilaian). Butir pernyataan untuk pengamatan disusun
dalam bentuk Lembaran Pengamatan yang tersusun secara sistematis dan berurutan
sehingga hasil pengamatan merupakan kesimpulan yang benar. Berhasil tidaknya
observasi sebagai alat pengumpul data bergantung kepada observer atau pengamat,
bukan pada pedoman observasi. Oleh sebab itu memilih pengamat yang cakap, mampu
dan menguasai segi-segi yang diamati sangat diperlukan.
F. Penyusunan
Instrumen Penilaian
Instrumen penilaian yang disebut juga alat penilaian yang akan digunakan, baik
itu alat penilaian yang berupa tes maupun non-tes harus diperhatikan cara untuk
menyusunnya. Prosedur yang perlu ditempuh untuk menyusun alat penilaian tes dan
non-tes adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi sasaran hasil, dengan cara menentukan tujuan instruksional
2. Mengidentifikasi
bentuk-bentuk soal
3. Membuat kisi-kisi butir soal
4. Menulis butir soal
G.
Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Dalam melakukan percobaan soal,
terdapat beberapa kegiatan yang harus dilakukan, yaitu, melihat valid tidaknya
soal-soal, melihat reliabel tidaknya soal-soal, melihat tingkat kesukaran soal,
melihat daya pembeda soal, dan melihat faktor pengecoh. Kegiatan seperti itu
biasa disebut analisis butiran soal. Hasil penelitian yang valid bila terdapat
kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada
objek yang diteliti. Selanjutnya hasil penelitian yang reliabel, bila terdapat
kesamaan data dalam waktu yang berbeda. Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan
data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel.
1. Validitas Instrumen
Suatu soal atau set soal dikatakan valid apabila soal-soal itu mengukur apa
yang semestinya harus diukur. Instrumen yang valid berarti alat ukur yang
digunakan untuk mendapatkan data (mengukur itu valid. Sebagai contoh, ketika
peneliti ingin mengukur kemampuan siswa dalam matematika. Kemudian diberikan
soal dengan kalimat yang panjang dan berbelit-belit sehingga sukar ditangkap
maknanya, akhirnya siswa tidak dapat menjawab karena tidak memahami
pertanyaannya.
Menentukan validitas suatu asesmen tergantung pada bagaimana anda berencana
untuk menggunakannya. Secara lebih tepat, ketika kita berbicara mengenai
validitas tes untuk mengidentifikasikan siswa yang memahami pertanyaan linear,
kita benar-benar mengacu pada bukti yang kita miliki yang memberitahukan kita
bahwa kesimpulan-kesimpulan kita yang berdasarkan skor itu benar. Kita akan
terus menggunakan “validitas” sebagai “bukti untuk mendukung
kesimpulan-kesimpulan berdasarkan skor.”
Instrumen yang valid harus mempunyai validitas internal (rasional) dan
eksternal. Instrumen yang mempunyai validitas internal (rasional) bila kriteria
yang ada dalam instrumen secara rasional atau teoritis telah mencerminkan apa
yang diukur. Jadi, kriterianya ada di dalam instrumen itu. Instrumen yang
mempunyai validitas eksternal bila kriteria di dalam instrumen disusun
berdasarkan fakta-fakta empiris yang telah ada. Untuk itu penyusunan instrumen
yang baik harus memperhatikan teori dan fakta dilapangan.
Validitas itu ada
macam-macam, yaitu validitas isi, validitas ramal, validitas dompleng,
validitas konstruk, dan validitas banding. Validitas ramal dan dompleng disebut
validitas kriteria.
• Validitas isi adalah validitas yang didasarkan kepada isinya. Apabila kita
membuat soal untuk siswa SMP maka soal tersebut harus sesuai dengan kurikulum
SMP.
• Validitas kriteria adalah validitas yang berkenaan dengan peluang posisi
seseorang dikemudian hari atau dalam bidang lain didasarkan kepada skor yang
diperoleh melalui instrumen yang kita maksud. Validitas ramal dan validitas
dompleng adalah bagian dari validitas kriteria.
• Validitas ramal adalah validitas untuk meramalkan sesuatu, misalnya tes TOEFL
dalam bahasa inggris.
• Validitas dompleng ialah validitas yang didasarkan kepada mendomplengnya instrumen
yang kita buat kepada instrumen lain yang validitas ramalnya sudah ada.
• Validitas konstruk adalah validitas yang diperoleh melalui penyusunan
instrumen yang didasarkan kepada karakteristik subjek yang dituju atau prilaku
subjek yang diharapkan.
• Validitas banding adalah validitas yang dimiliki oleh instrumen yang kita
buat yang koefisien korelasinya dengan alat ukur yang sudah ada dan yang valid,
diketahui tinggi.
2. Reliabilitas Instrumen
Sebelumnya, kita mengenalkan konsep reliabilitas sebagai sesuatu yang
berhubungan dengan konsistensi penilaian manusia. Namun, reliabilitas dalam
pengertian lebih luas mengacu pada apakah skor-skor tes mendapatkan kembali
maknanya (tetap konsisten) walaupun terdapat perubahan-perubahan dangkal dalam
situasi asesmen. Tanpa konsistensi tersebut, kita tidak dapat mengatakan dengan
meyakinkan bahwa kita mengetahui apa yang dilakukan seorang siswa. Skor tes
yang tidak reliabel tidak berguna karena tidak memberitahukan kita sesuatu yang
berarti mengenai kinerja siswa. Karena alasan inilah kita harus menjamin bahwa
hasil-hasil kita itu reliabel sebelum kita mempertimbangkan validitas, yaitu
suatu isu yang paling dekat dengan penggunaan tes. Walaupun reliabilitas itu
penting, ini bukanlah kondisi yang cukup untuk validitas yaitu, apakah skor tes
menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang akurat mengenai kinerja siswa dan
selanjutnya merupakan basis yang dapat diterima untuk keputusan. Hasil tes
dapatlah secara sempurna reliabel tetapi tidak sangat relevan dengan keputusan
yang diinginkan.
Reliabilitas instrumen adalah ketetapan atau keajegan atau keterandalan
instrumen tersebut dalam mengukur apa yang diukurnya. Artinya, kapanpun
instrumen itu digunakan tetap memberikan hasil ukur yang sama (Sudjana, 2004).
Tes hasil belajar dikatakan reliabel apabila hasil pengukuran saat ini
menunjukkan kesamaan hasil pada saat yang berlainan waktunya, terhadap siswa
yang sama. Misalnya, siswa diberikan tes matematika pada hari ini dan minggu
berikutnya siswa tersebut di tes kembali. Hasil dari kedua tes relatif sama.
Untuk melihat apakah instrumen yang kita buat reliabel atau tidak, kita
bisa menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik
tertentu, yakni:
a. Test-retest
Reliabilitas instrumen yang diuji dengan tes-retest dilakukan dengan cara
mencobakan instrumen beberapa kali. Jadi, dalam hal ini instrumennya sama,
respondennya sama dan waktunya yang berbeda. Pengujian dengan cara ini sering
disebut stability.
b. Ekuivalen
Pengujian dengan cara ekuivalen cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya
dua, pada responden yang sama, waktu yang sama, tetapi instrumennya berbeda.
c. Gabungan
Pengujian reliabilitas dengan cara ini dilakukan dengan mencobakan dua
instrumen yang ekuivalen itu beberapa kali ke responden yang sama. Jadi,
merupakan gabungan dari kedua cara sebelumnya.
d. Internal Consistency
Pengujian reliabilitas dengan cara ini, dilakukan dengan mencobakan instrumen
sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan tekhnik tertentu.
3. Hubungan validitas dan reliabilitas,
serta besarnya r
Tidaklah banyak artinya jika kita dalam menerjemahkan besarnya r kepada tingkat
reliabilitas itu tanpa meninjau jenis instrumen, baku tidaknya instrumen,
ukuran sampel, dan jenisnya reliabilitas (bagaimana koefisien reliabilitas itu
diperoleh).
Reliabilitas instrumen merupakan syarat untuk pengujian validitas instrumen.
Oleh karena itu, walaupun instrumen yang valid itu umumnya pasti reliabel,
tetapi pengujian reliabilitas tetap perlu dilakukan.
4. Analisis butiran soal
Terdapat tiga faktor yang harus dilihat untuk dapat menentukan apakah butiran
soal tertentu itu baik atau tidak. Pertama, tingkat kesukaran. Kesukaran
butiran soal ditentukan oleh perbandingan antara banyaknya siswa yang menjawab
soal itu benar dan banyaknya siswa yang menjawab butiran soal itu. Kedua,
indeks diskriminasi atau daya pembeda adalah korelasi antara skor jawaban
terhadap sebuah butiran soal dengan skor jawaban seluruh soal. Ketiga, melihat
bagaimana pilihan jawaban lain dipilih oleh kelompok-kelompok itu dibandingkan
dengan pilihannya terhadap pilihan yang benar.
H. Penutup
Asesmen memberikan informasi untuk pembuatan keputusan mengenai apa yang telah
dipelajari siswa, nilai-nilai apa yang layak mereka dapatkan, apakah siswa
harus naik kelas, bantuan apa yang mereka butuhkan, dll. Asesmen yang baik
memungkinkan kita untuk secara akurat mengkarakteristikan pemungsian dan
kinerja siswa dan membuat keputusan-keputusan bijak yang akan meningkatkan
pendidikan. Apakah asesmen memberikan informasi yang akurat untuk pembuatan
keputusan? Apakah penggunaan hasil berkontribusi untuk keputusan yang bijak? Ini adalah isu-isu penting dalam
menilai kualitas suatu asesmen. Jika kita ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara positif, maka
asesmen kita harus valid dan reliabel.
Asesmen dibuat dengan tujuan memberikan informasi untuk membuat keputusan
mengenai siswa, dan tujuan-tujuan pendidikan wilayah, dan negara. Jelas bahwa
beberapa keputusan mengenai siswa dan sekolah membawa lebih banyak konsekuensi
yang serius dibanding yang lain. Semakin tinggi resiko yang berhubungan dengan
suatu asesmen, semakin besar kebutuhan untuk mendokumentasikan kualitasnya,
yaitu validitas dan reliabilitasnya. Jika suatu asesmen membawa konsekuensi
yang serius, maka bukti validitas yang formal untuk tujuan-tujuan yang
dimaksudkan itu menjadi penting.
Secara realitas menunjukkan bahwa penilaian atau asesmen yang dilakukan dengan
cara konvensional belum mampu mengungkap hasil belajar siswa dari aspek sikap
dan proses atau kinerja siswa secara aktual. Oleh karenanya diperlukan
penerapan sistem penilaian yang dapat mengungkap kedua aspek tersebut. Sistem
penilaian yang diasumsikan dapat memenuhi tuntutan tersebut adalah sistem
penilaian yang digagaskan dalam Sistem Penilaian Kelas Kurikulum 2004 atau
dalam kurikulum yang disempurnakan dalam kurikulum 2006 (KTSP) yang antara lain
meliputi jenis Penilaian Kinerja (Performance Assessment), Penilaian Karya
(Product Assessment), Penilaian Penugasan, Penilaian Proyek, dan Penilaian
Portfolio. Dari jenis-jenis tersebut tersirat bahwa makna penilaian mencakup
hal-hal yang lebih luas dari sekedar penilaian konvensional yang selama ini
berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Asmawi, Z. dan Nasution, N. (1994). Penilaian
Hasil Belajar. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.
Cole, Peter. G
and Chan, Lorna. (1994). Teaching Principles and Practice. Australia:
Prentice Hall.
Departemen Pendidikan Nasional. (2002). Pedoman
Pengembangan Silabus. Jakarta: DepdiknasRepublik Indonesia.
Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. (2005). Kurikulum dan
Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Mulyana, E. Hendi. (2005). Asesmen dalam
Pembelajaran Sains SD (Artikel). http://re-searchengines.com/artikel.html.
(Online).
Ruseffendi. (1991). Penilaian Pendidikan dan Hasil
Belajar Siswa khususnya dalam Pengajaran Matematika. Bandung.
Sugiyono. (2007). Metode Penelitian Pendidikan.
Bandung: Alfabeta.
Sudjana, Nana dan Ibrahim. (2004). Penelitian dan
Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algensindo.